Skip to content

Jamu yang terlupakan dan dirindukan

3 September 2014

Kapan anda terakhir mengkonsumsi jamu? dalam pikiran kita ketika mendengar kata jamu adalah minuman pahit yang ketika akan meminumnya harus ada segelas penawarnya, padahal menurut saya pengertian jamu itu sangat luas, tidak melulu harus yang mengandung tanaman pahit seperti Brotowali, tapi juga yang mengenakkan dan menyegarkan seperti seduhan jahe dengan gula aren.

Ciplukan

Sejarah jamu sudah cukup lama berkembang, bahkan ditemukan dalam relief candi borobudur, dimana ada relief batu yang dipakai untuk menggiling tanaman untuk menghasilkan serbuk dan ekstrak tanaman, dimana dipakai untuk kesehatan ataupun perawatan kecantikan.

Seiring berkembangnya jaman, Tanaman jamu yang banyak khasiatnya semakin ditinggalkan dan orang-orang mulai beralih ke pengobatan kimiawi, padahal negara-negara barat sudah mulai kembali melakukan gerakan back to nature, bahkan seorang warga negara asing sengaja mendedikasikan dirinya meneliti tentang jamu tradisional ini dan menerbitkan buku “Jamu; The Ancient Indonesian Art of herbal healing“.

Tapi tetap ada kabar gembira, karena mulai banyak kembali orang yang peduli dengan jamu yang diistilahkan dengan herbal dimana inipun menjadi polemik yang berkepanjangan antara kutub pengguna herbal dengan pengguna obat-obatan kimiawi, saling serang argumen dan menurut saya itu baik untuk bisa memberikan kajian lebih jauh tentang pemanfaatan produk jamu/herbal ini.

mangkokan

Pemerintah sendiri sudah mendaftarkan jamu sebagai sebagai Warisan kebudayaan dunia ( World Cultural Heritage ) ke UNESCO, untuk semakin menguatkan bahwa jamu sebagai warisan leluhur sudah sepantasnya diangkat keberadaannya untuk keberlangsungan aneka hayati yang dijadikan jamu juga tentunya untuk menjaga kesehatan kita sendiri.

Bagaimana langkah mempertahankan jamu tetap ada? salahsatunya dengan menggalakkan kembali gerakan Tanaman obat keluarga (TOGA) yang berisi aneka tamanan jamu/herbal yang bisa digunakan ketika anggota keluarga kita memerlukannya, siapa yang tidak kenal dengan jahe, kunyit, kencur? bahan-bahan yang rata-rata terdapat dibumbu masak ini mempunyai khasiat dahsyat untuk kesehatan, belum lagi lalapan seperti beluntas, kenikir, pegagan,mangkokan, kecombrang, dan banyak lagi, sebagai menu lalapan tapi juga berkhasiat.

Tanaman perdu yang tumbuh liarpun tak kalah banyak khasiatnya dan orang sudah banyak yang lupa, seperti Meniran, Ciplukan, Ki urat dan Bandotan yang mempunyai khasiat yang bagus untuk menjaga kesehatan.

Saya dan keluarga sebagai orang sunda menu lalapan yang disebutkan diatas tak terlewatkan untuk dikonsumsi dan pertolongan pertama saat sakit cukup memetik tanaman obat yang ada disekitar kita.

Namun perlu diakui seiring perkembangan jaman dan menyempitnya lahan terbuka hijau membuat masyarakat, terutama perkotaan sulit memperoleh tanaman jamu yang segar, sehingga ini menjadi peluang bagi pengusaha untuk mengembangkan produk siap saji dan siap seduh dalam bentuk serbuk ataupun ekstrak, tapi hal ini juga menjadi tantangan bagi pemerintah dan BPOM untuk ketat mengawasi dari peredaran jamu/herbal palsu yang malah akan merugikan konsumen bahkan berefek buruk pada kematian.

Pustaka :

http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 3 September 2014 08:41

    Itu yg photo nomor dua daun mangkok-mangkok an ya?
    Depan rumah dulu ada tp skg sdh musnah 😦

  2. 3 September 2014 13:24

    @nikitomi : iyaps, itu mangkokan enak dilalap cocol sambel setelah direbus 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: