Skip to content

Jengkol, Kopi, Erupsi Gunung dan Pemimpin

21 Februari 2014
Istirahat Kopi

Istirahat Kopi

Pohon jengkol merupakan pohon yang menarik bagi saya. Selain teringat kenangan masa lalu, juga karena buah jengkol ini pernah menjadi fenomena dengan harga yang membumbung tinggi sampai 70rb/kg.

Ingatan kembali pada 1990-an ketika saya tinggal di Durian Luncuk Batanghari Jambi, sangat banyak pohon jengkol yang saya miliki, sejak usia 8 tahun saya sudah kenal dan menikmati jengkol, kini harganya mahal karena kelangkaan pasokan bisa dikarenakan sudah langkanya pohon jengkol.

Jengkol

Saya sangat tertarik dengan adanya pohon jengkol di sekitar Cico Resort ini saat Istirahat minum kopi, sesuatu yang langka di pulau Jawa saya menemukan pohon jengkol.

Lalu saya mengkhawatirkan eksistensi pohon ini, karena dengan semakin jarang dan langka pohonnya saya sebagai penggemar pun akan kesulitan menemukan dan menikmati buah jengkolnya untuk diolah menjadi Semur atau sekadar dilalap mentah cocol sambel.

Ah kebijakan pembangunan pemerintah terkait MP3EI sepertinya akan semakin menghilangkan kuantitas pohon jengkol yang ada di Indonesia. Pohon jengkol dengan akar tunggalnya bisa menjadi salahsatu tanaman produktif untuk menjadi tanaman diarea penyangga seperti lereng-lereng Pegunungan, sebagai penahan laju erosi dan penyerap air jika hujan tiba, lalu saya teringat saat ini sedang terjadi bencana Erupsi Gunung Sinabung dan Gunung Kelud, efek dan bahaya berikutnya yang mengancam setelah Letusan adalah Banjir lahar dingin karena bertepatan dengan musim penghujan, bila di area penyangga yang seharusnya ditanami pohon-pohon berakar kuat menghunjam bumi berubah menjadi tanaman sayuran, maka kita tidak bisa menyalahkan ketika banjir lahar ini menyapu habis kawasan yang ada di lereng-lereng gunung tersebut.

Apakah ini salah pemerintah? Secara jelas saya katakan iya, Pemerintah tidak pernah aware terhadap perambahan dan perusakan lereng-lereng Gunung untuk lahan pertanian tanpa memperhatikan kawasan penyangga bila bencana letusan gunung berapi  terjadi, tapi bila sudah terjadi bencana maka pemerintah harus sigap dalam tanggap bencana, dan segera tetapkan sebagai darurat nasional walaupun ini bencana di daerah, jangan sampai terjadi seperti perlakuan terhadap pengungsi Sinabung yang berbeda dengan pengungsi Kelud, ini sungguh ironis.
Penanganan, respon dan tanggapan pemerintah pusat dalam menangani masalah ini sangat lambat, kalau tidak dikatakan TERLAMBAT!

Karena keasyikan termenung memikirkan jengkol, Erupsi Gunung, Pemimpin saya menjadi lupa tidak menyeduh kopi saat istirahat kopi tadi.

*seadanya tulisan, hasil koreksi daeng @1bichara*

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: