Skip to content

Hujanpun susah ditebak

14 November 2012

Menerawang ke 20 tahun yang lalu, saat kecil dan senang bermain hujan.. masa sangat menyenangkan kala itu dengan bertelanjang dada berlarian dihalaman rumah atau dilapangan untuk sekedar bermain bola ditemani derasnya hujan, ternyata sudah lama berlalu.

Dulu, musim tanam padi ladang yg tingginya bisa melebihi ketinggian orang dewasa dilaksanakan pada bulan september dengan tradisi dibulan juli- agustus nya adalah membersihkan ladang dan membakar rumput2 liar untuk selanjutnya akan menjadi pupuk alami saat musim tanam padi ladang berlangsung.

“Kenapa menanam padinya selalu di bulan september pak?” Tanyaku pada Bapak.

“Karena pada bulan-bulan yang ada ber-nya itu musim hujan nak, jadi ketika kita menanam padi di ladang tidak diperlukan tenaga untuk menyiram dan cukup kita menyiangi padi dari rumput liar dan sesekali memberinya pupuk untuk membuat semakin subur padinya” Begitu wejangan bapakku panjang lebar, dan aku hanya bisa mengangguk.

“Jadi mulai dari bulan SeptemBER, OktoBER, NovemBER, DesemBER, itu saat hujan yg lebat dan sangat membantu pertumbuhan pagi, memasuki Januari, Februari hujan mulai mereda dan padi saat itu sudah mulai menguning dan siap Panen, masuk bulan MaRET maka, RET hujan pun berhenti berganti panas, dan padi2 hasil panen sudah bisa dijemur diterik matahari” lanjut bapakku.

Padi ladang

Tapi itu sudah lama berlalu, 2 tahun lalu kami dibuat stress oleh kondisi sawah yang tidak bisa mendapatkan pasokan pengairan walau bulannya ada “BER”nya, situasi sekarangs udah amat sulit ditebak dan terpaksa 4 petak sawah yang ada berubah menjadi Kebun, hiks.. daripada menanam padi hanya menuai kegagalan karena tidak ada suply air untuk kelangsungan hidup padi, walaupun periodesasi padinya sudah semakin singkat dibandingkan padi ladang.

Seperti tahun ini, musim hujan baru terasa ketika masuk bulan oktober, september hujan masih malu-malu untuk menampakkan diri, dan mulai anomalinya pergerakan cuaca dan musim karena adanya perubahan ekstrem dari lingkungan, sehingga menyumbang efek ketidakseimbangan alam, terutama adalah perambahan dan perusakan wilayah hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia.

Sudah sangat sering kita melihat dan membaca berita yang berisi Sawah-sawah kekeringan gagal panen karena tidak ada supply air, sementara diwaktu yg bersamaan dilain daerah dan tempat, sawah-sawah warga gagal panen atau panen dini karena kebanjiran.

Smoga kita bisa semakin bijak memperlakukan alam, sehingga alampun membalasnya dengan lebih baik dan lebih bijak.

Sumber gambar dari SINI dan SINI

Iklan
4 Komentar leave one →
  1. 15 November 2012 11:07

    selamat bercocok tanam 🙂

  2. 16 November 2012 20:38

    @ikhsan : pokokmen meh bertani… walau indonesia duwene kementrian import pertanian

  3. sang nanang permalink
    19 November 2012 07:53

    mongso rendheng pak tani atine seneng….nandur pari!

  4. 22 November 2012 18:39

    @sang nanang : heeh, pas musim udan deres-deres mben dinane klebus 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: