Skip to content

Singkong, Ramadhan dan Pekik Merdeka

8 Agustus 2012

Dahulu 67 tahun lalu tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 atau  8 Ramadhan 1364 H, Ir. Soekarno dan M.Hatta membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, tak terasa sudah berlalu lama dan apakah kita sudah merasakan merdeka?

Saya masih inget cerita simbah-simbah sekarang yang dahulunya ada para pejuang kemerdekaan, bahwa situasi saat itu sungguh tidak kondusif dan mereka harus bergerilya dari satu tempat ke tempat lain dan yang saya tanyakan pada mereka adalah apa yang mereka makan saat itu? ternyata umbi-umbian lebih dominan dikonsumsi dan salahsatunya adalah singkong.

Tahun 1993-1995 saya berkesempatan menginjakkan kaki di Propinsi Jambi tepatnya di Kabupaten Batanghari atau lebih terpencil lagi daerah transmigrasi Durian Luncuk VII, perjalanan sehari untuk bisa mencapai kota kabupaten dengan medan jalan masih berupa jalan tanah merah dengan kubangan air dimana-mana.

Kenikmatan yang dirasakan ketika tinggal didaerah terpencil diantara hutan belantara dan hutan karet adalah kesederhanaan dalam hidup, mungkin karena saya masih kecil juga segala hal dibawa senang dan gembira, bila musim hujan tiba kami tidak bisa bepergian jauh misal ke pasar untuk menjual hasil bumi, alhasil kami masih menjalankan pola barter untuk bertukar kebutuhan.

Dibelakang rumah saya dan masyarakat lainnya tumbuh subur pohon singkong, karena tak terjual sehingga dengan kreatifitas masyarakat mengolah menjadi aneka panganan, yang paling banyak diolah menjadi Tiwul/Oyek dan Gaplek, sehingga ketika musim paceklik tiba, tidak ada beras yang bisa dimakan, maka menu makan dengan oyek, sambel dan rebusan singkong merupakan makan ternikmat yang bisa dirasakan, jangan harap bisa dijual karena akses yang jauh dari pusat denyut ekonomi.

2010, Saya menemukan kembali oyek/tiwul ketika bertandang ke daerah wonogiri yang konon termasuk penghasil singkong dan tiwul di jawa tengah, dan di gunung kidul yogyakarta sudah diolah menjadi tiwul instant yang menurut lidah saya menjadi hilang ciri khas udiknya :mrgreen:

Kini, saya melihat pemerintah dalam hal ini kementrian pertanian, singkong saja ada yang import, sungguh heran, selama usia balita sudah disuguhi rebusan singkong dan sampai sekarangpun saya berkebun singkong sekitar 1000 pohon, dan insya allah akan panen setelah Idul Adha.

Korea IT Volunteer Panen Singkong

Kebijakan Import pemerintah saat ini sudah sangat keterlaluan, terutama import singkong, padahal itu pohon singkong digletakin percuma diatas tanah saja bisa hidup kok, dan dibulan ramadhan yang bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan RI ini akankah kita akan selalu dirongrong oleh kebijakan import? dimana pekik merdeka yang sesungguhnya?

Ironis sekali.

Iklan
8 Komentar leave one →
  1. 8 Agustus 2012 17:40

    Gampang bung bagi pemerintah.. Itungan e duit. ketika bisa ada pengadaan, ketika bisa memukul harga mereka merasa menang ya sudah. Presidennya Doktor pertanian lho.. Percaya saja bahwa dia percaya diri ngurusin pertanian.. Meski kenyataannya dia memalukan almamaternya itu

    Kasihan IPB

  2. 8 Agustus 2012 20:17

    @bimosaurus : diperparah dengan mendag yang orientasinya barat, baru ada menteri kok nembe reti rasane singkong, kalah karo si jae hoon seng lagi nyabut singkong kae.

    jangan2 tar dia alesan ga fokus ke pertanian karena dia brangkat bukan dari s1 pertanian *uhuk*

  3. 9 Agustus 2012 13:19

    wah si anak singkong juga to?
    tetapi memang nek dirasa-rasa, dipikir-pikir…..hm kita ini kok semakin tidak merdeka di negeri sendiri yo?

  4. 9 Agustus 2012 17:39

    @sang nanang : wah iya kang :mrgreen: sudah pernah jaman 5SD jd kuli panggul singkong 😀

    pernah ada twit yg berbunyi : dulu kita terpenjara soal demokrasi, otak dikekang, tp sekarang yang dikekang adalah Perut 😦 dan itu efeknya hang juga diotak

  5. 21 Agustus 2012 13:05

    *Lagi ngerti kalo singkong juga improt sekarang*… nang jejer umah nandur telo, didiemin aja jadinya tetep bagus tuh… kayake panggede nagari perlu direboisasi ini.

  6. 27 Agustus 2012 10:43

    Intinya sekarang adalah, para petinggi negeri ini cari obyekkan sebanyak – banyaknya untuk ngisi kantongnya sendiri dan kantong para parpol yang mengusungnya……
    Ckckckckckcck………..
    Sungguh ironis………

  7. 28 Agustus 2012 11:30

    akankah kita kembali ke jaman Singkong lagi mas? 🙂

  8. 30 Agustus 2012 09:53

    @juugo : lha dari petani aja harga singkong cuma 800 perak/kg, ndadak import? lak telo tenan tho kelakuane?

    @thoyib : Akur.. sepakat!!

    @ikhsan : kyknya nggak, yang ada masuk ke jaman import singkong 😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: