Skip to content

Perjalanan Ke Wonogiri

1 Mei 2010

Desa Baturetno

Alhamdulillah selasa (27/04/10) kemarin mendapat kesempatan untuk jengjeng / jalan-jalan ke daerah Dringo Wonogiri, untuk nama wonogiri sih saya udah ndak asing lagi, karena biasa naek bis Rajawali yg punya rute Wonogiri-Solo-Jogja/Semarang-Bandung-Cianjur-Sukabumi, yg saya baru tahu adalah kalau ternyata ada rute yg tidak dilewati rajawali yaitu Jogja-Wonosari-Wonogiri, sebuah pengalaman baru.

Perjalanan di mulai Pukul 19:00 dari Fasnet UGM mengambil rute tengah menuju Jl. Wonosari, perjalanan lancar sampai wonosarinya dan sempet mampir di warung makan ayam goreng kremes untuk sekedar mengisi perut yg kelaparan, menu yg ditawarkan lumayan menggoda selera dan untuk rasa maknyuss ( kata pak bondan ).

Setelah dirasa kenyang perjalanan dilanjutkan menuju kota wonosari dan terus membelah wonosari melewati jalur utama, keluar kota wonosari masuk daerah ponjong dan karena kita ambil rute jalan pintas, malah jalan yg dilalui cukup lurus terus saja sampai perbatasan wonosari – wonogiri, setelah itu kondisi jalan sudah turun naik dan berkelok-kelok tapi karena kondisi aspal yg mulus tidak begitu terasa goncangan apalagi di sepanjang jalan di temani rimbunnya pohon jati dan pohon singkong penduduk.

Sempat terlelap di perjalanan dan terjaga sudah sampai dilokasi yaitu di Giriwoyo Wonogiri, tepat pukul 22:00 rasa kantuk kembali menyergap, niat nonton pertandingan Muenchen dan Lyon pun gagal total karena kalah oleh kantuk.

Tak terasa pagi sudah menyapa dan menikmati sejuknya udara dan hangatnya sang mentari dengan duduk diteras rumah sambil melihat lalu lalang siswa sekolah, jadi teringat jaman sekolah tempo dulu.

Didaerah ini terdapat desa biogas yg bernama desa Tawangharjo yg kebutuhan gasnya dihasilkan dari pengolahan kotoran sapi, desa yang memiliki luas 548,048 ha dengan penduduk sebanyak 3.785 orang atau 912 keluarga ini, mulai mandiri dalam segala hal. Menurut Kades Tawangharjo Triyatmoko, sejak 2008, warga mulai mengembangkan energi alternatif, yakni biogas dan listrik tenaga surya. biogas dari kotoran ternak sapi ini dikembangkan karena daerah yang sebelah utara berbatasan dengan perairan Waduk Gajah Mungkur (WGM) ini diharapkan tidak menebangkan pohon-pohon green belt (sabuk hijau). “Kebutuhan untuk menghidupkan kompor tidak menggunakan kayu bakar, namun dengan biogas. Sedangkan untuk penerangan rumah, warga mengembangkan listrik tenaga surya, sehingga tidak terpancang pada PLN.

Salut juga dengan keberadaan desa Tawangharjo yg sudah bisa mandiri.

Iklan
7 Komentar leave one →
  1. 1 Mei 2010 20:38

    susah mencari point dari postingan ini selain pamer ayam kremes aja.. yg sebenernya juga pasti biasa aja..karena kan semua makanan dirasa maknyus..apa coba makanan yg menurut mas den ga enak? 😛

    eh point terakhir deh..mayan.. tawangharjonya.. 😛

  2. 2 Mei 2010 09:08

    @eMo : intinya kan jalan-jalan 😀

  3. 11 Desember 2011 08:23

    jalan2 ke wonogiri enak loe….

  4. 11 Desember 2011 08:25

    :p

  5. 13 Desember 2011 10:15

    @tita : kan udah 😀

Trackbacks

  1. Makanan tradisional tiwul « sudikarangkateskuliner
  2. Tiwul « afriyantofarid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: