Skip to content

Renungan WS Rendra Menjelang Wafat

14 Agustus 2009

Ini repost dari milis kantor saya dan juga mungkin repost dari milis lain, bila ada sumber asli yg merasa keberatan mohon maaf.

Saya repost kembali di Blog ini sebatas hanya mengingatkan saja, karena isi renungan tersebut bagus buat jadi bahan renungan kita semua.

Renungan Indah – WS Rendra- ditulis saat sebelum wafatnya.

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
mengapa Dia menitipkan padaku???

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

***
WS Rendra

Sungguh terlecut diri ini ketika membaca untaian kata-kata diatas…

Selamat jalan Ws Rendra…

Iklan
7 Komentar leave one →
  1. 14 Agustus 2009 14:15

    tulisan itu bener² renungan.. dalem.. bukan sekedar syair atau sajak yang sering dia bikin..

    semoga beliau diterima amalnya,..

  2. 14 Agustus 2009 14:20

    @eMo : iya sungguh bermakna, syair dia terkenalnya keras, tp yg ini menggugah hati…

  3. 14 Agustus 2009 18:46

    Dia memang budayawan besar….
    Sayang tadi malam tidak sempat datang di acara Mengenang Rendra oleh CNKK dkk di RRI Merdeka Barat
    Jadilah November 2007 menjadi pertemuan terakhir dengan Si Burung Merak

    Mat jalan untuk Mas Willy

  4. 15 Agustus 2009 08:29

    Syair yang sangat menyentuh hati bgt…
    Selamat jalan sang legenda smg amalmu diterima disisiNYA

  5. 15 Agustus 2009 08:56

    @ndoro

    Wah beruntungnya sempet ketemu…

    @ardyan

    Iya, bener-bener seorang legenda… semoga husnul khotimah…

  6. 17 Agustus 2009 13:31

    jadi terenyuh membacanya…….

  7. 17 Agustus 2009 16:41

    seperti sudah tahu pada akhirnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: