Skip to content

Pelestarian Alam Implementasi dari AklaqulKarimah

22 November 2007

Setelah sebelumnya saya posting Etika, Akhlak dan Moral, sekarang dapat lagi materi tentang pengembangan dari akhlak mulia ( akhlaqulkarimah). dan sebenarnya konsepnya masih ngambang banget, tapi mau melakukan pengembangan menyadur (copas) sudah malas tak berdaya 😀 .

Kelestarian dan Kestabilan kondisi alam saat ini sungguh sangat memprihatinkan dan sudah keluar warning tentang Global Warming ( Pemanasan Global ). Pemanasan Global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Perubahan tersebut bahkan sudah terasa di Indonesia termasuk di Yogyakarta, kita akan merasakan panas yang berbeda dari hari ke hari. Sungguh benar firman Allah yaitu bahwa segala kerusakan yg ada didunia ini merupakan ulah tangan manusia, berapa hektar hutan hilang tiap tahun karena adanya pembalakan liar dan si pembalak bisa dengan bebas melenggang keluar dan hilang tak tahu rimbanya, padahal jika pemanasan global ini di biarkan, akan sungguh dahyat sekali akibatnya bagi hidup dan kehidupan kita di dunia ini. Berikut dampak yg ditimbulkan :

1. Cuaca

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat dan ini sudah dengan nyata dapat kita rasakan saat ini.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

2. Tinggi Permukaan Air Laut dan pantai

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

3. Pertanian

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

4. Hewan dan Tumbuhan

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah

5. Kesehatan Manusia

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

Karena sebagaimana yg telah disebutkan diatas bahwa ciri akhlak mulia adalah kita juga harus bisa mengatur dan bersikap bijak dalam pergaulan terhadap manusia, hewan dan lingkungan sekitar kita, Sebab ketika ke-ego-an kita yg lebih dominan, nggak peduli dengan dampak kerusakan lingkungan dengan melakukan penebangan hutan secara membabi buta, pembakaran hutan, mencari ikan dengan bom atau pukat harimau misalnya, maka akibatnya bukan hanya akan dirasakan oleh orang perorangan saja, tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana banjir bandang bahorok yang menewaskan ratusan nyawa dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal?, karena benar Firman Allah ta’ala :

“Hendaklah kalian takut akan fitnah (bencana) yg akan menimpa tidak hanya pada orang-orang yang dholim diantara kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah itu amat keras adzabNya

Maka bila kita bisa bertenggangrasa, tepa selira, maka kita bisa meminimalisir akibat dari pemanasan global ini, mari mulai dari sekarang, mulai dari yg terkecil dan mulai dari diri sendiri untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan alam sekitar kita, karena manfaatnya untuk anak keturunan kita kelak.

A. Pengendalian Pemanasan Global

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.

Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.

B. Mengelola Karbondioksida

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.

Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara.

Disadur dari beberapa sumber dengan bantuan mbah google  

Iklan
16 Komentar leave one →
  1. 22 November 2007 21:45

    Basi jugak!

  2. bachtiar permalink
    24 November 2007 19:45

    artikel yang menarik . two thumbs to you!

  3. 26 November 2007 09:58

    @bachtiar

    makasih… :”>

    *GeeR Mode : ON 😀

  4. 27 November 2007 18:40

    basi sih ngak tapi kok ngak ada sudut pandnag yang baru…heheheh kami ingin artikel ini lebih dikembangkan…heheh kalau diposting lagi kan keren [dan ngomong-ngomong ya] ame bisa dikoment deui euy…btw, blog ana pindah ke http://www.bakawan.com/log

    danke!

  5. 27 November 2007 23:47

    @uwiuw

    hehe.. lieur euy… 😀

    seadanya dulu aja.. sambil mikir bahan yg lain 😀

  6. 28 November 2007 21:08

    Kemaren – mungkin sampai hari ini – di Muara Baru Jakarta masih terendam air pasang. Itu disebabkan karena fenomena alam, dimana air laut emang sedang pasang tinggi atau karena bibir pantai yang diurug??

  7. 29 November 2007 12:22

    @erander

    kemungkinan karena fenomena alam disebabkan oleh pemanasan global.. bisa juga karena pengurukan 😀

  8. 29 November 2007 13:07

    cuma bisa baca doang. No koment! 🙂

  9. 29 November 2007 15:13

    @Medan

    hehe.. apa kabar bahorok sekarang?

  10. 10 Desember 2007 19:39

    tinggal nunggu the day after tomorrow 😀

  11. 11 Desember 2007 05:34

    @Setya

    ini bukan tentang james bond khan?? 😀

    Dunia sudah diambang batas 🙂

  12. 18 Mei 2008 11:53

    Keren^^.. aq bisa blajar untuk melestarikan dan menjaga bumi… hehehhe

  13. 21 Mei 2008 09:20

    @someone

    go green for aur world 😀

  14. 5 Maret 2009 19:05

    wuaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh bagussss harus ada lagi untuk nanti saya kls 3 makasih

  15. 5 Maret 2009 19:06

    VERY GOOD saya bisa sambil belajar keren CING…

  16. 5 Maret 2009 19:49

    @zulfikar

    sip sip.. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: