Skip to content

Akhlak Etika dan Moral

14 November 2007

Tentunya kita sudah familiar dan sangat tidak asing dengan ketiga kata diatas, dan hampir jadi makanan sehari-hari…

Misal kita lihat orang diberita kriminal yg dengan sadisnya membantai anak/orang tua, kita akan kontan membathin.. “huh dasar bejat, tidak bermoral”.

Misal kita melihat orang masuk rumah kita nyelonong tanpa permisi, maka kita akan membathin “etikanya dikemanain?” ( dikantongi kali ).

Ketika ada tuntutan dari orangtua yg ingin anaknya menjadi orang yg baik adalah amalkan lah akhlaqul karimah.

dari contoh dan misal diatas setidaknya bisa mengambil kesamaan dan perbedaan dari ketiga term tersebut, tp yg jelas ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yg tidak bisa kita pilah dan pisah seenaknya saja, Pengertiannya apa sih?? tapi disini saya gak bahas tentang pengertian, karena biasanya yg namanya definisi/pengertian selalu menghasilkan sesuatu yg baik dan ideal, namun bila sudah masuk ranah realistis kehidupan sehari-hari maka terkadang definisi jadi tidak berarti jika bercermin pada kenyataan yang ada.

dalam membahas ini saya akan memposisikan jadi komentator saja ah.. biar enak menilai dan menanggapi suatu permasalahan, karena jika sebagai aktor saya pun akan masuk dalam ranah tidak bisa sesuai dengan idealitanya.

Akhlak etika moral kata yg mudah diucapkan, namun amat sangat sulit di laksanakan (itu yg saya rasakan :D). kejujuran sudah sangat mahal harganya di alam ini (ato saking mahalnya gak ada yg sanggup beli dan jual, lalu sapa yg punya?? ) ntahlah… yang bisa kita lakukan adalah jujur dan bangga karena bisa mengakui bahwa kita salah tersesat tapi terlalu sungkan untuk kembali..

terlalu mudah kita mengecap seseorang jelek, padahal belum tentu kita sendiri tidak jelek, Ego kita terlalu tinggi untuk dengan gampangnya menjudge seseorang tanpa kita bisa memberikan solusi apa-apa.

seperti cerita muballigh di komplek pelacuran, dia tak sanggup untuk menegakkan yg haq dengan berkata :”ayo kalian keluar dari sana.. karena itu NERAKA balasannya, tapi setelah mereka keluar solusi apa yg kita kasih?”, akhirnya jalan ma’fu (dimaklumi / ditoleransi) yg ditempuh, ya udah biarin mereka tetep jd pelacur tp beri mereka bekal agama, ajari mereka cara baca tulis AlQur’an, cara berktrampilan, karena jika mereka sudah gak laku, paling nggak mereka bisa beralih karena sudah punya bekal.. apakah dosa?? jelas… tp ini alternatif yg bisa lakukan.. sambil tentunya membuat tahapan dan target memperoleh kebaikan dan jalan yg ideal.

Bertindak dan berbuat sesuatu yg berguna jelas lebih baik dari pada mencela tanpa solusi..

Iklan
11 Komentar leave one →
  1. 14 November 2007 16:14

    Ma’fu adalah kalimat yang tidak bisa dihindari… menjadi ma’fu sambil mengharapkan perbaikan selanjutnya… Sebuah solusi dari pilihan yang sama-sama pahit. kalau tidak salah kita bisa mengikuti hukum: cari mafasid yang palng ringan, jika dua2nya mafsadat… 🙂

    salam kenal mas… baru mampir kemari lama ga ol soale

  2. 14 November 2007 17:49

    Ahlak memang mengedepankan emapatic jadi bukan mengedapkan kebenaran yang dipaksakan kepada orang lain…. karenanya, jika dhadapkan pada dua hal yang dua2nya tidak menyelesaikan maka ambil yang terkecil madorotnya… (ma’fu) ah oot nih..

  3. 14 November 2007 18:00

    Wuuf, entah kenapa dalam bertindak, saya moral-oriented ketimbang ritual-oriented ya… ^^;

  4. 14 November 2007 20:51

    @kurtubi

    salam kenal.. padahal dah saling berkunjung.. sibuk nih ya??

    yang repot adalah ketika ma’fu yg diandalkan bukan tahap perbaikannya 🙂

    @rozenesia

    bisa dijelaskan kedua istilah itu? 😀

  5. benbego permalink
    14 November 2007 23:00

    @ Kurtubi.: kaidah ushul fiqh yg dipake. Luva arabnya. 😀 Yang namanya ritual ya pelaksanaannya. No talk, action only. benar salah, itu persepsi. jd ya up2us! :mrgreen:

  6. 15 November 2007 05:23

    @benbego

    kalo perkara muamalah kita bisa menentukan suatu perkara dari realitasnya (kenyataan) dulu apa dari idealitas (definisi/pengertian)nya dulu, ada larangannya nggak?

  7. 15 November 2007 09:48

    Enggg… Yah, moral-oriented kan berpatokan pada nilai moral, ritual-oriented kan berpatokan kepada ritual (agama). 😛

  8. 15 November 2007 16:50

    @rozenesia

    oh begitu… ketika ngambil moral oriented patokannya apa 😀

  9. Bachtiar permalink
    15 November 2007 17:49

    setuju . . . mencela tidak akan menyelesaikan masalah hanya memperkeruh saja .

  10. 16 November 2007 20:47

    @Bachtiar…

    😀 😀

    apa sudah kultur ya?

Trackbacks

  1. Pelestarian Alam Implementasi dari AklaqulKarimah « Another side about me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: