Perkembangan seluler di Indonesia sungguh sangat menggembirakan, setelah para pemain lama, telkomsel dengan Halo Simpati AS, indosat dengan Mentari Metrix IM3 Starone dan XL dengan Xplore, Bebas dan Jempol, lalu bermunculan generasi berikutnya, ada Hutchison CP Telecommunications dengan three, lalu telkom dengan Flexy, Bakrie dengan esia, Mobile-8 dengan fren, Sinar Mas dengan Smart nya dan akan banyak lg bermunculan yang lainnya.
Pesatnya perkembangan seluler tentu akan diiringi dengan semakin tingginya persaingan dan penjualan prangkat pendukungnya (HP), promosi seluler yang semakin tren dengan program bundle HP dan Chip yang sistemnya di lock hanya untuk seluler tertentu, seperti fren dengan ZTE nya dan esia dengan huawei nya walau ternyata ada yg bisa menjebol locknya.
Nah Seharusnya sapa sih yang di untungkan? seharusnya yg diuntungkan adalah kita sebagai konsumen, karena banyak pilihan seluler yang sesuai dengan selera gaya dan kantong dari masing2 kita, walau sayang semuanya selalu yang ditekankan adalah sesama operator yang bisa murah meriah, dan klo ada yang kawin dengan monyet gara2 iklan XL yang menggembar gemborkan tarif 0,1 nya ke semua operator
tapi ternyata dengan term and condition yg membelit. Karena tarif murah antar operator masih sebatas mimpi setidaknya untuk saat ini, karena emang bahan dasar interkoneksi antar provider seluler mahal harganya (info dari teman yg kerja di provider seluler).
Perang tarif gila-gilaan dan sudah tanpa tedeng aling2 lagi saling jegal, Iklan Freetalk 5000 mentari di “jegal”oleh iklan Rp. 1/dtk nya XL dengan bunyi iklan : “Tong kosong nyaring bunyi nya, Rp.0 bukan tarif
“, lalu tidak berapa lama muncul simpati dengan Rp. 0,5/dtk dan gayung bersambut dengan tarif Xl 0,01/dtk dan disambut salam perang oleh kompetitornya, mentari keluar dengan gratis 1 menit pertamanya, im3 dengan 0.01/dtk juga three lalu antar CDMA pun terjadi hal yang serupa, Flexy dengan bonus pulsa 100%, Esia dengan telp dibayar di telp dibayar ( terbayang wajah lucu agus ringgo lg nangkring diatep ). Fren dengan klaim paling murah call ke GSM dengan 700/ menitnya dan ini tentu akan membuat kita gembira dan bangga
Sapa lagi yg di untungkan?? yang jelas penjual dan produsen Hape, oplah mereka akan meningkat dengan pesat dan tentu yang terakhir adalah operator yang meraup untung dari perang tarif ini.
Efeknya apa sih bagi konsumen? yang jelas adalah akan banyak counter HP berjalan, maksudnya apa coba counter HP berjalan, karena memenuhi kewajiban tarif murah ke sesama, maka orang2 akan menggunakan minimal 2 Hape 1 GSM dan 1 CDMA, padahal dulu banget, satu rumah paling punya 1 telp / Hape, lalu bergeser 1 orang punya satu hape. tahun 2002 saya baru mengenal apa itu Hape ( karena tuntutan perut jadi makelar hape ) dan hape merupakan barang sangat mewah, sekarang?? dengan duit kurang dari 2oo rebu udah punya hape plus nomernya.
Apa orang akan puas dengan hanya dua hape?? oh ternyata tidak, gimana klo dia punya teman dari berbagai GSM dan berbagai CDMA ? gak mungkin khan rasanya memaksa teman kenalan relasi pacar selingkuhan untuk ikut memakai nomor yang 1 bendera dengan kita?? maka pertama yg diperbanyak adalah chip kartunya, trus lama2 setelah merasa bahwa chip tidak bisa nganggur di balik dompet dan saku dan juga merasa kasian dan takut iri maka dibelikan lah tempatnya (hape). dan kalo kita mengikuti napsu beruk, maka kita akan jadi counter hape berjalan dengan 10 hape bercokol ditubuh dengan alokasi khusus antar sesama… dan kebayang nggak klo 10 hape itu berbunyi berbarengan??
Dan sekarang orang dengan bangga mejeng hape di meja cape sampe 4 biji, apakah bermaksud pamer ato mo jualan?? ntahlah.
Perkembangan seluler dan persaingan operator positif untuk perkembangan teknologi informasi di indonesia, namun juga negatif karena nafsu konsumtip kita tersalurkan.