Traffic Lights yg hanya menjadi Pajangan
Tadi pagi hampir terjadi tragedi diperempatan baturetno kotagede karena dari arah selatan ada motor yg ngebut tiada tara padahal penanda lampu sudah merah, sedang dari arah barat sudah hijau dan bersedia melaju, itu pengendara yg dari selatan bukannya menghentikan kendaraan atau mengerem, malah membunyikan klakson dan ngebut tiada tara, hampir saja dia menabrak bis yg ada didepannya, saya hanya bisa mengelus dada dan memandang nanar, beruntung tidak terjadi tabrakan antara orang tersebut dengan bapak2 yg ada disebelah saya ketika berhenti menunggu lampu hijau.
Di jogjakarta sudah sebagian besar perempatan sudah ditempatkan traffic lights yg ada counternya, tp ternyata itu tidak berfungsi banyak, karena yg namanya penanda lampu itu : kuning adalah segera ngebut supaya bisa melewati merah, sedang kalau counter diangka 2 maka segera tancap gas, padahal disinilah awal malapetaka kecelakaan diperempatan karena yg satu memburu lampu kuning disisi lain tidak sabar untuk menunggu lampu hijau, efek kecelakaan seperti itu sungguh sulit dibayangkan karena dikedua sisi dalam posisi membetot gas sekenanya.
Saya yakin kita menerobos lampu merah/ kuning bukan karena tidak tahu aturannya seperti apa, tapi lebih kepada minat yg tinggi dalam mencoba iseng melanggar peraturan lalulintas, padahal efek nya lebih berbahaya daripada ditilang oleh polisi bila terjadi tabrakan dengan pengendara dari sisi yg berbeda.
Mungkin sudah saatnya kita kembali mempelajari aturan dan rambu-rambu di jalanan untuk keselamatan kita, karena Menggunakan Helm SNI itu bukan menjadi alasan melegalkan aturan lalulintas, karena merasa kepala sudah aman dari benturan menggunakan jalan menjadi tidak bijaksana.
Demi keselamatan tidak ada salahnya untuk bersabar dalam berkendara, kalau kebelet tidak dengan ngebut supaya cepet sampai ke rumah, tp carilah WC umum terdekat atau rumah warga terdekat numpang ijin untuk ikut buang hajat, insya allah tuan rumah tidak keberatan, dari pada tujuannya buang hajat dirumah sendiri tapi karena di jalan tidak hati-hati malah menginap di ICU, mengerikan.


sing penting tartib…
syukur kalo gak ono sing cilaka
yo jaman wes kulawik lawik kang… Ttdj ya…
@nahdhi : wajib nek tertib, demi keselamatan
@ikhsan : untung iseh slamet kui pengendarane..
@han : hooh kang, mengerikan nang jalan raya kie
emange sing negbut selak kebelet to?
@Sang nanang : ketok’e sih ngono kang
hehe.. M sekali kesemprit.. tu aja ‘ga nyadar’ langgar lampu merah.. dah kapok banget rasanya.. ga lagi² deh,,
@eMo : dan persidangan menanti kekekek
ga ngebut ga gaul deh ahh … hehehe
klo ngebutnya disirkuit khusus mah dikasih applaus pasti, tp klo dijalan umum, bisa2 dikasih keranda mayat :takut
di sini memang hijau artinya cepat, kuning lebih cepat, merah sangat cepat. senior saya meninggal di pertigaan, motornya di-T (ngerti tho om maksudnya?) motor dari samping, kepalanya pecah. *Ya Allah, ampuni dosanya*
penyebabnya ada yang ndak nggubris lampu merah
@mas Stein : iya.. makanya aku klu blm ijo bener ( walau sisi lain dah kuning/ merah ) di sisiku ngalahi di klakson dari belakang daripada nyelonong, lalu ujug2 dari arah berlawanan ada “Setan” lewat